Buku di Luar Angkasa
arsip pengetahuan apa yang kita kirim ke alien
Bayangkan rumah kita sedang kebakaran. Barang apa yang pertama kali kita selamatkan? Dompet, ponsel, atau mungkin album foto keluarga? Secara insting, kita akan menyelamatkan hal-hal yang menjadi bukti identitas kita. Sekarang, mari perbesar skalanya. Bagaimana jika umat manusia sedang "mengepak koper" untuk perjalanan ke luar angkasa yang entah kapan selesainya? Pernahkah kita memikirkan, buku, catatan, atau arsip pengetahuan macam apa yang akan kita titipkan ke alam semesta? Pesan apa yang ingin kita sampaikan kepada entitas lain, atau mungkin kepada keturunan kita di masa depan yang jauh?
Sejak zaman purba, manusia punya obsesi psikologis yang sangat mendasar. Kita suka meninggalkan jejak. Dari cap tangan di dinding gua prasejarah hingga coretan "I was here" di meja sekolah menengah. Ini adalah mekanisme pertahanan diri kita melawan kefanaan. Kita ingin diingat. Di tahun 1970-an, obsesi ini mencapai level kosmik. Ilmuwan kita mulai menempelkan "surat" di wahana antariksa. Salah satu yang paling ikonik adalah Pioneer Plaque, sebuah lempengan aluminium berlapis emas. Isinya digambar oleh astronom Carl Sagan dan istrinya saat itu, Linda Salzman. Hanya gambar anatomi pria dan wanita sederhana, serta peta lokasi Tata Surya kita. Tapi lempengan kecil ini justru memicu pertanyaan besar. Apakah sekadar gambar tubuh manusia dan peta rute ke Bumi sudah cukup untuk mewakili kerumitan sejarah kita yang luar biasa ini?
Tentu saja tidak. Kita butuh sebuah "buku" yang lebih tebal. Beberapa tahun kemudian, Carl Sagan kembali memimpin tim untuk membuat Voyager Golden Record. Ini pada dasarnya adalah piringan hitam berlapis emas yang berisi kompilasi suara dan gambar dari Bumi. Ada suara ombak, tangisan bayi, musik Mozart, hingga ucapan salam dalam 55 bahasa. Tapi di sinilah letak ironi psikologisnya. Saat memilih isi rekaman ini, Sagan dan timnya menghadapi dilema kurasi yang berat. Mereka akhirnya sengaja menghapus jejak perang, kelaparan, genosida, dan penyakit mematikan. Mereka hanya mengirimkan versi terbaik dan paling romantis dari umat manusia. Apakah kita sedang membohongi alien? Atau kita sekadar denial dengan sisi gelap kita sendiri? Pertanyaan ini menggantung selama puluhan tahun. Hingga akhirnya, di era modern, para ilmuwan dan filantropis memutuskan untuk berhenti memfilter. Mereka ingin mengirimkan segalanya: sains, seni, sejarah, hingga kebodohan kita. Tapi muncul masalah baru. Bagaimana caranya mengirim perpustakaan raksasa ke luar angkasa tanpa hancur lebur oleh radiasi kosmik?
Di sinilah hard science mengambil alih panggung dengan cara yang luar biasa elegan. Kertas akan hancur, dan flashdisk biasa akan terhapus datanya oleh badai matahari. Karena itu, ilmuwan dari Arch Mission Foundation menciptakan media penyimpanan abadi. Mereka menggunakan cakram kuarsa silika seukuran koin yang diukir menggunakan laser femtosecond (laser super cepat). Teknologi ini dikenal sebagai 5D optical data storage. Cakram kristal ini tahan terhadap api, radiasi ekstrem, dan diperkirakan bisa bertahan hingga miliaran tahun. Lalu, apa isi "buku" kristal ini? Semuanya. Trilogi novel fiksi ilmiah Foundation karya Isaac Asimov diterbangkan ke orbit matahari. Begitu juga jutaan artikel Wikipedia, rahasia trik sulap David Copperfield, urutan DNA manusia, hingga panduan merakit ulang peradaban Bumi dari titik nol. Semuanya dicetak dalam skala mikroskopis. Namun, ada satu rahasia besar dari semua mega-proyek pengarsipan ini. Secara probabilitas matematis, peluang alien menemukan cakram sekecil koin di luasnya ruang hampa adalah mendekati angka nol. Ilmuwan kita sangat tahu fakta dingin ini. Lantas, untuk apa kita bersusah payah mengirim perpustakaan ke bintang-bintang?
Jawabannya mungkin sedikit membuat hati kita gerimis. Sejatinya, kita tidak menulis pesan itu untuk alien. Kita sedang menulisnya untuk diri kita sendiri. Mengirim buku dan arsip ke luar angkasa adalah cermin psikologis raksasa bagi umat manusia. Proses menyortir apa yang penting bagi peradaban, memaksa kita untuk merenungkan siapa kita sebenarnya. Di tengah alam semesta yang begitu dingin, gelap, dan sangat sunyi, kita sering kali merasa kesepian sebagai sebuah spesies. "Buku-buku" yang kita lempar ke kehampaan itu adalah sebuah deklarasi empati dan harapan kita bersama. Pesannya sangat sederhana: "Kita pernah hidup. Kita pernah mencintai, berselisih, membuat musik, dan menulis cerita." Keberadaan kita di alam semesta ini, betapapun singkat dan rapuhnya, memiliki makna. Jadi teman-teman, saat nanti malam kita menatap langit berbintang, ingatlah bahwa di luar sana ada bagian dari cerita kita yang sedang melayang melintasi ruang dan waktu. Dan mungkin, menyadari hal tersebut sudah lebih dari cukup untuk membuat kita sedikit lebih menghargai kehidupan sehari-hari di titik biru pucat ini.